Sunday Morning Call

Sunday Morning Call
(Dalam ingatan…)

***
Nyawong jiba oh bukon beubarang
Jikalon badan teu eh teuhenta
Umu lhee uroe jih tanpa badan
Keudeh bak Tuhan lon mohon pinta

Ya Tuhanku ya Tuhan kamoe
Izin ulon woe ubak anggota
Izin pih troh le nyawong pih jiwoe
Hinan pih sampoe ubak anggota

‘Oh ban troh nyawong u dalam jeurat
Ji dong hana rap jioh lhee deupa
Nyawong disinan ka tahe gante
Jikalon badan teu eh teuhenta

Peuet ploh peuet uroe sabe lon riwang
Jak saweue badan dalam keureunda
Kon keuh meunan naseb ulon meutuah
Teumita Allah kehendak Rabbana.

Ya Tuhanku Ya Tuhan kamoe
Izin ulon woe ubak anggota
Izin pih troh le nyawong pih jiwoe
Hinan pih sampoe ubak anggota

Peuet ploh peuet uroe sabe lon riwang
Jak saweue badan dalam keureunda
Nyawong disinan ka tahe gante
Jikalon badan teu-eh teuheunta

lirik oleh Nyawong

***

Bait lagu itu sangat terasa pilu bagiku jika aku mendengar, mungkin kalau kalian mengerti arti bahasa naggroeku itu, kalian juga akan merasa pilu sepertiku. Tapi itu dua tahun lalu, kini kalau mendengar itu aku menjadi terbayang kejadian 2 tahun lalu 26 Desember 2004 lalu.

Hari ini 2 tahun yang lalu, aku berada dalam posisi paling down dalam hidupku, betapa tidak hari itu panggilan Tuhan berbisik di naggroe ku. Puluhan ribu jiwa manusia lenyap disana, anak kecil, tua, muda, tak pandang bulu. Semua saja dibawa oleh gelombang besar itu.

Tsunami bukti kekuasaan tuhan telah dihadirkan di tanah kelahiranku. Aku hanya bisa tertegun, terhentak dan merasa tak bisa berbuat sesuatu untuk kesana. Hingga kini aku belum bisa menemukan arti dari semua itu, sebuah cobaan, ujian atau azab yang pasti ada disemuanya itu. Tuhan aku terus berusaha mencari hikmah yang Kau simpan dibalik semua itu. Saat itu semua menjadi basi, yang terbayang olehku hanya sesuatu yang sangat memilukan.

"Badai pasti berlalu…" everything is gonna be ok!
Aku percaya itu, aku yakin itu, paling tidak itulah yang kualami saat ini, aku akan melihat nanggroeku mulai menggeliat lagi, bergerak lagi, dan mulai berbenah. Tuhan, sudahkan ini semua akan berakhir? jangan Tuhan biarkan kami merasakan lebih lama lagi, setelah semua yang Kau anugerahkan.

Tsunami, mendengar kata itu jujur saja aku masih ngeri dengan semua itu. Aku berdoa itu cuma sejarah dan tidak akan terulang lagi dimasa depan. Ketakutanku mungkin belum seberapa dengan yang dialami oleh saudara-saudaraku disana, mereka begitu pilu saat minggu pagi yang biasanya damai berubah menjadi sangat menakutkan dan gemuruh suara ombak hitam itu menjadi trauma tersendiri bagi saudaraku. Rasa takut dan sedih, tangis yang tak tertahankan, sedih yang tak bersua, berbaur jadi satu dlam sebuah kepanikan yang sangat dahsyat. Belum cukup rasanya kata dalam menceritakan dan menggambarkan semua kepanikan yang terjadi disana saat itu, dua tahun lalu itu. Aku sendiri belum bisa percaya itu telah terjadi disana.

Tapi tak terasa, dua tahun sudah petaka itu berlalu dari nanggroeku, rasanya baru saja aku bertemu kedua orang tuaku hhfff… Aku tetap saja masih mencari hikmah dari semua itu, aku yakin itu ada, dan aku akan menemukannya nanti. Semoga nanggroeku lebih menggeliat lebih jauh dan aktif lagi, tutp lemabran lama buka lembaran baru, mari menantap Aceh, nanggroe akan jauh lebih baik lagi.

Tuhan, mohon tunjukkan hikmah yang Kau simpan dan yang harus aku temukan dari semua itu.
Amin…

Dalam ingatan tentang 2 tahun yang lalu…
26 Desember 2006, Desember Kelabu
Bandung,
[Isack]

Leave a Reply