Ladia Galaska, Jalan Aman Menuju Bencana

Ladia Galaska, Jalan Aman Menuju Bencana
(Demi sebuah alasan untuk mengundang bencana dan kemarahan alam)

Gunung-gunung yang
tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba’ / 78:7),
Tiba-tiba memuntahkan
debu, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat / 77:10)

Dengan berbagai alasan akhirnya muncul sebuah rencana yang sudah
lama tertunda yaitu tentang pembuatan jalan penghubung antara pantai
timur sengan pantai barat dari ujung pulau sumatera yang melintasi
daerah terpencil dari kawasan taman nasional gunung Leuser. Pembangunan
jalan Ladia Galaska itu adalah pembangunan yang direncanakan telah lama
dan sekarang telah berjalan, salah satu alasan adalah menghilangkan
keter-isolasian masyarakat sekitar gunung Leuser yang sangat
terbelakang. Sebenarnya benarkah pembangunan jalan Ladia Galaska
membantu masyarakat atau merusak lingkungan hidup kawasan taman
nasional gunung Leuser dengan luas 2,5 juta Ha itu?
Menurut survey WALHI kerusakan hutan hingga 25% dari keseluruhan luas taman nasional Leuser
atau sekitar 500.000 Ha. Gunung Leuser yang melintasi 15 Kabupaten/Kota
di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Keberadaannya
sudah diakui oleh dunia internasional. Secara nasional Wilayah ini
diakomodir melalui Keppres No. 33 tahun 1998 tentang Pengelolaan
Kawasan Ekosistem Leuser.
Melihat perkembangan yang ada dengan
adanya pembangunan jalan Ladia Galaska yang secara geografis telah
membuat taman nasional itu terpecah. Secara logika memang pembangunan
jalan itu mempermudah akses dari timur dan barat menjadi lebih mudah
dan cepat. Namun, dibalik itu semua ada hal yang mungkin tanpa kita
sadari kita telah membuka jalan dan secara langsung telah memfasilitasi
para ilegal logging untuk lebih "nyaman" mengakses masuk
kedalam ekosistem leuser yang dulunya masih perawan dan belum terjamah.
Secara otomatis dengan adanya jadinya jalan Ladia Galaska telah
mempermudah para penjahat hutan itu untuk menjamah dan mengobrak-abrik
isi hutan yang mestinya menjadi salah satu sisa paru-paru indonesia
yang sudah mulai hancur. Dengan terjamahnya ekosistem leuser ini
berarti lebih dari 2,5 juta rakyat Aceh dan Sumatera Utara yang sudah
terbiasa dengan udara segar dan air bersih dari perawannya ekositem
leuser tersebut akan terganggu.
Nasi telah menjadi bubur semua yang
diharapkan tidak sesuai dengan keinginan, yang saya takutkan adalah
upaya pengembangan jalan Ladia Galaska ini lebih bermuatan politis yang
notabene menguntungkan beberapa pihak saja yang jelas itu semua
mengalir bersama rupiah yang mengucur dari proyek dengan biaya yang
pastinya mencapai trilyunan rupiah itu. Tentunya itu sangat jauh
meleset dari rencana awal yaitu membuka keterisolasian masyarakat
sekitar dari dunia luar, melenceng menjadi ajang mengumpulkan kekayaan
dengan mencari alasan yang sangat sudah basi di negeri ini. Tanpa
memikirkan efek dari pembukaan lahan yang mencapai ratusan hektar itu.
Dengan pembukaan lahan ratusan jenis satwa yang hanya terdapat di
kawasan hutang lindung ini menjadi lebih kecil daya jelajahnya, selain
itu telah mematikan habitat secara tidak langsung terhadap populasi
sebagian satwa langka disana. Sangatlah munafik jika memanfaatkan
alasan membuka keterisolasian masyarakat sekitar dengan mengorbankan
ekosistem yang justru akan melindungi masyarakat secara lebih
menyeluruh dan dalam waktu yang sangat lama, kalau memang pemerintah
ingin membuka keterisolasian bagi mereka mungkin pembuatan jalan bukan
soslusi yang terbaik yang harus dipilih, alangkah lebih bijaksana jika
pemerintah memberikan subsidi bagi mereka yang terisolasi dan
memindahkan mereka ke tempat yang lebih tidak terisolasi dari kehidupan
luar. Kita tunggu saja komitmen dari pemerintah dan masyarakat, Pemda
NAD tentang janji untuk tetap menjaga paru-paru bumi ini, Yang jelas
keputusan untuk membuka jalan Ladia Galaska dengan panjang 102,5 Km
bukanlah pilihan yang tepat untuk mengatasi masalah yang ada, malah
lebih memperburuk masalah dan secara langsung mau-tidak mau kita telah
merencanakan waktu untuk mengundang bencana yang besar dan
berkelanjutan. Alam akan membalas semua yang telah kita berikan pada alamnya.

Artikel ini bermula saat saya membaca artikel di
http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/banjirlongsor/sejuta_bencana/
dengan banyak pengembangan dari pikiran yang gw punya.

Tulisan
ini mengingat akan semakin hancurnya alam karena tangan manusia, semoga
sadar. Masih ada beberapa lagi artikel lain yang belum sempet gw add di
blogs ini.

[Isack]
Bandung, 12 November ‘06

4 Responses to “Ladia Galaska, Jalan Aman Menuju Bencana”

  1. Gejor Says:

    Mencoba meluangkan waktu, membuat bibit pohon dari biji, kadang hilang, kadang rusak, kadang mati, ditanam lagi, hanya sebuah harapan menjadi semangat nanti akan tumbuh besar membentuk hutan rimba belantara.
    Di lain pihak, di lain tempat, pohon-pohon ditebang, hutan-hutan dirusak, dibakar, demi uang dan harta, sementara bibit-bibit yang merupakan harapan seperti tidak ada harganya dan sang pembuat yang senang dengan kehijauan seperti tidak dihargai.
    Udah capek, ga dibayar, jadi kaya juga nggak, mungkin tambah miskin :p, eh di lain tempat para pelaku ilegal loging menebang seenaknya dan menjual kayunya berjuta-juta, yang pasti jadi kaya raya.

    Duh, sedihnya hati ini…
    Kaciaaan deh kalian yang mencintai lingkungan…
    Bwakakaka…!!!

    Salam Lestari!!!

  2. uun Says:

    emang gitu tu tong, syukur sekarang proyek tu dah agak dilupakan tenggelam dengan isu rahab dan rekon acah tong.

    satu hal yang sangat dilematis ama aku sendiri tong, karena aku dan lihat sendiri jalan tu, satu sisi masyarakat yang di sekitar jalan sangat terisolir tong, karena DI situ cuma da kios tu pun dah maju kali tong, kalo lihat fenomena ini aku sangat mendukung tu jalan ladia galaska, tapi yang paling kutakutkan adalah di belahnya hutan untuk jalur baru tong, dan aku sangat ngak setuju ama hal itu. nah tapi sekarang nampaknya orang dah lupa tong apalagi penggagasnya masih dipenjara.

  3. uun Says:

    salut buat ko tong yang masih ingat aceh, he…hee….

  4. Cheap iPods Says:

    Hey! Nice wordpress blog, I’m making my own soon and I’m just wondering if you can help me out. What themes and plugins are you using, if you don’t mind sharing? Thanks.

Leave a Reply