Archive for June, 2006

Ada lagi, Ibunda

Monday, June 19th, 2006

Ada Yang Belum Kau Berikan

[ penulis: Nurdin F Joes ]

(bagi ibu mertua Hj.Halimah binti H.Ismail
yang meningggal di Saudi Arabia, musim haji 1991)

Ada yang belum kauberikan, Ibunda
katakanlah, misalnya, tentang keping bulan
purnama
dengan sinarnya yang damai
aku jadikan cahaya
berjalan di gelap buta

Ada yang belum kauserahkan, Ibunda
katakanlah, sepotong tongkat
dari besi waja
aku jadikan pegangan
menghalau ketakutan

Ada yang belum kaukatakan, Ibunda
semisal lipstick bagi isteriku
dengan warna serasi
yang akan menjadi kekuatan
menjalani pergaulan hidup
sehari-hari

Ada yang belum kaukatakan, Ibunda
tentang petuah-petuah, misalnya
serta selaksa kata mutiara
yang akan mengalir jadi syair
tajam bagai pedang
lincah bagai rencong dan belati
ada yang tak sempat kaupesankan, Ibunda
misalnya, bagaimana cara hidup
mengimbangi zaman demi zaman
yang setiap saat mengirimkan luka
jumlahnya tak terhinggga

Ada lagi, Ibunda
tak sempat kautitahkan
bagaimana jadi perempuan wibawa
yang mungkin kuceritakan pada isteriku
agar ia selalu tampil sempurna

*) Penulis, Pemenang berbagai lomba cipta puisi, di antaranya, Lomba Cipta Puisi untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence) diselenggarakan Kantor Penerangan PBB (UNIC) Jakarta, 1987.

***
Cuplikan puisi ini untuk mengingatkan aku pada sosok manusia yang paling aku sayangi…
[Isack]

Kepada Perempuan, Ibu Kami

Monday, June 19th, 2006

Kepada Perempuan, Ibu Kami

[ penulis: Nurdin F Joes ]

(Menyambut “Hari Ibu 2004” yang dipusatkan di Lhokseumawe 22 Desember 2004)

Kepada para perempuan kami
kepada para ibu kami
di tanganmu kami titipkan embun
di dadamu kami sematkan cinta
dan di lehermu kami kalungkan bunga
agar para lelaki kami
selalu kuat dan teguh mengayuh sampan
menyeberangkan anak-anak dalam samudera
meskipun di gelap gulita
Dengan itu, di masadepannya
anak-anak kami tidak meraba matahari
tetapi mendekap purnama

Kepada para perempuan kami
kepada para ibu kami
jangan pernah abaikan sejuk butir embun
jangan pernah singkirkan putik-putik cinta
jungan jangan pernah lupa tangkai-tangkai bunga
agar dadamu memancarkan mataair
dan anak-anak dapat merebahkan diri
pada putih dadamu
dan, kemudian mendengar alun musik
dalam erat dekapmu

(Banda Aceh, 20 September 2002)

*) Penulis, Pemenang berbagai lomba cipta puisi, diantaranya, Lomba Cipta Puisi untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence) diselenggarakan Kantor Penerangan PBB (UNIC) Jakarta, 1987.

***
Cuplikan Puisi untuk ibuku tersayang,aku mungkin belum mampu untuk menulis lebih indah dari ini tapi ini cukup terwakilkan,mungkin…
[Isack]

Si Perjaka

Friday, June 16th, 2006

Perjaka Tampan itu,Aceh namanya…

Perjaka tampan itu masih saja berdiri dengan tegaknya
menatap masa depan yang tidak lagi sejalan dengan hatinya
perjaka itu memang masih tulen
kerut di wajahnya sudah mulai kelihatan
buktikekuatan hatinya

Banyak sudah gadis yang berparas manis menghampiri
sudah jutaan pula surat cinta yang datang menggoda
senyum sombong kadang terlihat dari bibir hitamnya
aku memang masih setampan orang tuaku dulu
setidaknya untuk beberapa tahun yang akan datang

"Aku masih saja dilirik ketampananku masih saja aku andalkan" ucapnya dengan bangga
urat lehernya yang timbul jelas masih terlihat dari kekerasan hatinya
kini penantian panjang sedang menunggu
akan datang saat perjaka tampan itu harus berfikir keras untuk jatuh dari lubang

"Aku akan sanggup" ucapnya sombong
"kalau saja coretan itu tak menyayat dada ku aku masih kuat untuk memukulnya
kini aku sudah menjadi perjaka yang tidak hanya bermodalkan ketampanan saja"
Akunya dengan sombong agak merendah

"Aku kini akan membentuk jiwa yang lebih tegar
oleh sebab ku sendiri aku menjadi malu"
setidaknya itu yang akan dilakukannya untuk mengganti kesalahn yang dilakukanny kemarin malam

Perjaka itu mencumbu seorang wanita gendut yang berjalan sendirian
walau tak sampai pada hal yang ditakutkan
ia telah mengakhirinya sendiri
mungkin dengan adanya hentakan dari dalam tanah dan goncangan dari laut
ia sadar dan langsung meminta maaf segera
walau wanita itu tak menanggapi

Kini perjaka itu sedang dalam kesedihan
menanggung sebuah kesedihan akan kerakusanya semalam
ada yang datang menghiburnya namun bukan wanita,kini hanya seorang pemuda yang jauh lebih tampan darinya

Wanita tua itu hanya melihat dari jauh dan haru terhadap perjaka itu
walau tidak memaafkan tapi wanita itu mengerti
Perjaka itu kini sedang berbenah
membangun kagi karismanya yang telah ia koyak sendiri

"Cepatlah bangun"
wanita tua itu hanya bebisik kecil
tapi perjaka tua itu tidak mendengarnya
ia masih sedih dalam kesendirianya

[Isack]
Sebuah perumpamaan untuk negeriku tercinta,dan wanita tua yang menghianatinya.
Aceh akan bangkit sehebat dulu lagi.

Kerapian kita

Sunday, June 11th, 2006

"Kerapian adalah bagian dari kebersihan".itulah sebuah kalimat yang tertulis dalam sebuah spanduk yang di pasang di depan kampus gue.
Sebelumnya terus terang gue secara pribadi gak setuju banget dengan ungkapan itu.Menurut gue kerapian dan kebersihan adalah dua jalan yang searah tapi berbeda jalur!,Itu dapat gue analogikan kayak gini,sebuah kebersihan mungkin akan sempurna jika dilengkapi dengan sempurna sebuah kerapian.Dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa kalau pun tanpa hadirnya si kerapian itu pun sudah bisa di katakan bersih,ya gak?bahkan bisa juga gue bilang kalo kerapian itu cuma sebagai pelengkap untuk menunjukkan identitas kalau itu sudah bersih sempurna.Masalah yang muncul adalah,ukuran apa yang bisa kita bakukan kalau sesuatu yang kita semua anggap itu adalah rapi dan bersih?belum ada bukan?maka dari itu gue gak setuju banget ama kalimat yang tadi itu.Bisa ajakan jika gue melihat sesuatu bisa gue bilang itu belum bersih tapi udah rapi.Lo semua juga bisa bilang sesuatu itu sudah bersih dan rapi,tapi bisa aja ada orang yang bilang kalo itu gak bersih sama sekali.
Kembali lagi ke kaliamt diatas,jelas ketidak setujuan gue ada alasannya,nilai dari sebuah kerapian dan kebersihan dapat kita lihat dari berbagai sudut pandang.Sebelum bue ngasih contoh nya,kita anggap saja kalu kita ini sudah menyamakan persepsi kita mana yang bisa dikatakan bersih,mana yang belum dan mana yang sudah bisa dikatakan sudah rapi begitu pula sebaliknya.Misal contoh kasus  nih,sesuatu yang sudah rapi bisa saja kelihatan tidak bersih kalau semua nilai kerapian sudah masuk didalamnya tapi masih banyak debu dan kotoran yang bertengger disana.Contoh lain kalau saja sebuah tempat atau ruangan sudah bersih dari debu,kotoran atau semua yang kita anggap mengganggu penglihatan sudah hilang tidak terlihat lagi,andai dalam kasus ini semua benda yang terdapat disana terletak secara tidak terstruktur dan berantakan maka ini pasti dapat kita katakan kalau ini tidak rapi bukan?nah,dari contoh kasus ini dapat gue bilang dengan jelas banget kalau ini membuktikan kalau nelai kerapian tidak melekat pada kebersihan yang sudah kita anggap tadi.Jelas banget kalau disini sudah kelihatan bahwa sesuatu yang bersih belum tentu identik dengan sebuah kerapian,begitu pula sebaliknya.Jadi dapat gue simpulkan kalau kerapian itu berbeda jalur tapi searah dengan kebersihan.Kerapian hanya pemilik nilai kesempurnaan dalam bagian dari kebersihan,begitu pula sebaliknya.yang jelas dua hal ini harus saling melengkapi untuk mencapai kesempurnaan dari nilai tertinggi yang akan diperoleh.
jadi ungkapan yang terpampang di kampus gue itu salah,mestinya tulisan itu berbunyi kayak gini "Kebersihan akan sempurna dengan kerapian"
Nah,sekarang tinggal permasalah lo semua yang setuju gak dengan penyanggahan yang gue lontarkan tadi.namanya juga lontar pendapat,yang jelas gak ada unsur untuk memprovokasi pihak-pihak tertentu untuk hal yang tidak bermakna.

[Isack]

Kegaduhan Malam

Sunday, June 11th, 2006

Malam yang baru saja datang seolah pergi berlalu begitu saja,
tanpa mau menoleh kebelakang walau hanya sebentar.
Hanya untuk melihat apakah aku masih berdiri tegar disana.
Semua sudah berlalu,
yakin ku tak akan pernah berbalik arah menuju ke belakang
.Kini hanya kegelapan yang mulai menghilang
akan datang secercah cahaya yang akan menerangi hari esok
mungkin akan juga menghilang dalam beberapa hitungan.
Berapa lama malam akan menerangi ruang hidup,
berapa lama akan memberi sinar atas kegelapan
telah bawa hilang oleh sang malam yang gulita.
Saat ini yang terasa hanya keheningan
bahwa esok pagi akan datang
sebuah harapan yang akan di bawa oleh sang mentari.
Hanya sebuah kehampaan yang pasti akan sirna
dimakan sang waktu yang seolah tak mau mengerti
dimakan sang waktu yang seolah tak mau mengerti
arti dari sebuah kehampaan.
Semoga kehampaan itu berlalu
meninggalkan kesendirian yang ramai oleh gaduhnya suara hati
Semoga kehampaan itu berlalu
meninggalkan kesendirian yang ramai oleh gaduhnya suara hati

[Isack]